Kumpulan RPP dan Silabus Berkarakter, Contoh PTK, Contoh Skripsi, Makalah Pendidikan Terbaru 2012

Konsep Kebahasaan Dan Pembelajaran Kebahasaan

Konsep Kebahasaan Dan Pembelajaran Kebahasaan

Dalam pembelajaran bahasa aspek kebahasaan disajikan terintegrasi dengan empat aspek keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kebahasaan diitegrasikan ke dalam keempat keterampilan.

1. Pembelajaran Kebahasaan dalam Mendengarkan

Pembelajaran kebahasaan dalam aspek mendengarkan di SMP sebagaimana telah disebutkan dalam kompetensi dasar yaitu: (a) Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat; (b) Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat; dan (c) Menganalisis laporan.

a. Pembelajaran Fonologi dalam mendengarkan

Aspek fonologis dalam mendengarkan merupakan kunci utama dalam pembelajaran ini sebab kesalahan pelafalan akan mengurangi kebermaknaan bahan dengaran. Sebagaimana telah disebutkan dalam fonologi bahwa bahasa Indonesia tidak membakukan pelafalan akan tetapi alangkah lebih baiknya bila pelafalan tersebut terhindar dari unsur fonologis kedaerahan maupun kesalahan. Beberapa pelafalan yang sering diucapkan salah misalnya:

Kata

Lafal salah

Lafal benar

/variasi/

/zaman/

/kursi/

/lubang/

/cabai/

/telur/

[pariasi]

[jaman]

[korsi/

[lobaŋ]

[cabe]

[təlor]

[variasi]

[zaman]

[kursi]

[lubaŋ]

[cabai]

[təlur]

Kenyataan adanya kesalahan pengucapan tersebut bila tidak segera diperbaiki dapat menimbulkan kesalahan yang fatal sebab pengucapan bentuk salah secara terus menerus akan memunculkan ’kesalahkaparahan’ dalam berbahasa. Oleh karena itu, pengucapan kata-kata hendaknya menjadi prioritas dalam pembelajaran menyimak. Metode dikte tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif metode yang dapat dipakai oleh guru dalam pembelajaran ini. Dikte dapat dilakukan dengan memakai alat tape recorder, compact disk, maupun secara langsung oleh guru. Rekaman suara yang dapat diperdengarkan antara lain, pidato, dongeng, cerita legenda, dongeng, pembacaan cerita, khutbah, dll.

Pembelajaran menyimak melalui penyampaian pesan secara berantai juga baik dilaksanakan. Setelah menerima pesan siswa diminta untuk mengucapkan kata yang dibisikkan, agar siswa jeli dan cermat tentu saja dipilihkan kata-kata yang saling berdekatan pelafalannya.

b. Pembelajaran Morfologi dalam Mendengarkan

Aspek morfologis dalam pembelajaran mendengarkan dapat berupa pengenalan jenis kata. Kata merupakan komponen penting dalam bahan dengaran sebab dari kata-kata tersebutlah disusun kalimat-kalimat yang kemudian diperdengarkan di hadapan siswa-siswa. Untuk mengajarkan morfologi melalui mendengarkan guru dapat memutarkan dengaran kepada siswa kemudian siswa diminta untuk mengidentifikasi beberapa jenis kata yang digunakan, misalnya guru menginginkan siswa menguasai kata tanya, guru dapat memutarkan dengaran yang berupa tanya jawab atau dialog. Selanjutnya siswa mengidentifikasi kata-kata tanya yang digunakan dalam dengaran tersebut.

c. Pembelajaran Sintaksis/Kalimat dalam Mendengarkan

Aspek kebahasaan selanjutnya adalah kalimat. Kalimat merupakan satuan kata yang mengandung gagasan yang menjadi pokok dengaran. Dari kegiatan mendengarkan tersebut respon yang diharapkan dapat berupa aspek keterampilan yang bersifat produktif misalnya menulis atau berbicara. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan tersurat dalam kurikulum bahwa hasil yang diharapkan adalah siswa mampu menyimpulkan isi berita dari bahan dengaran ke dalam beberapa kalimat dan menuliskan kembali berita yang dari bahan dengaran dalam beberapa kalimat.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut siswa tentu saja harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kalimat dan unsur-unsur pembentuknya. Bagaimana membuat kalimat yang efektif dan mudah dipahami oleh orang lain. Untuk mengajarkan kalimat kepada siswa guru dapat menggunakan menggunakan metode-metode yang komunikatif dan melibatkan siswa secara langsung dalam membuat atau menganalisis kalimat.

d. Pembelajaran Semantik dalam Mendengarkan

Semantik berkaitan dengan jenis-jenis makna dan relasi makna. Dalam dengaran tidak dapat dihindarkan adanya perubahan-perubahan makna, baik yang berupa sinomim, antonim, homonim, homofon, homograf, dll. Untuk mengajarkan semantik dalam mendengarkan dapat dilakukan dengan memutarkan sebuah dengaran, baik yang berupa monolog maupun dialog, selanjutnya siswa diminta untuk mencari sinonim, antonim, homonim, homofon, homograf, atau aspek lain dalam semantik yang ingin disampaikan.

e. Pembelajaran kosakata dalam pembelajaran Mendengarkan

Kosakata berkaitan dengan ketersediaan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh siswa, semakin kaya khasanah kosakata yang dimiliki siswa akan mempermudah siswa dalam memahami bahan dengaran. Penguasaan kosakata akan berpengaruh pada kevariasian kata yang digunakan siswa untuk merespon kegiatan mendengarkan. Contoh dalam kompetensi dasar yang ingin dicapai berupa menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat. Agar kompetensi dasar tersebut dapat dicapai perbendaharaan kata siswa harus cukup sehingga kalimat yang dihasilkan siswa bukan kopi dari dengaran yang telah diperdengarkan.

2. Pembelajaran Kebahasaan dalam Berbicara

Berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Dilihat dari produktivitasnya secara lisan makan aspek fonologi menjadi bagian yang dominan dalam pembelajarannya. Dalam hal ini dapat diprasyaratkan siswa mampu berbicara dengan lafal, intonasi, tekanan, dan jeda yang jelas, dengan kata lain unsur-unsur segmental dan suprasegmental bahasa harus dikuasi oleh siswa.

Standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam aspek ini adalah: (a) Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif; (b) Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana; (c) Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat; (d) Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai; (e) Bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun; (f) Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar; (g) Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar, serta santun; (h) Melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas; (i) Berpidato/ berceramah/ berkhotbah dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta volume suara yang jelas;

1. Pembelajaran Fonologi dalam Berbicara

Pada tataran fonologi intonasi, suara, dan lafal sangat ditekankan. Dengan kata lain aspek suprasegmental menjadi penting ketika berbicara.

Fonem yang berwujud bunyi disebut dengan fonem segmental. Selain itu, fonem pun dapat pula tidak berwujud bunyi, tetapi merupakan tambahan terhadap bunyi. Jika orang berbicara, makan akan terdengar bahwa suku kata tertentu pada suatu kata mendapat aksen yang relatif lebih nyaring daripada suku kata lain; bunyi tertentu terdengar lebih panjang, lebih nyaring dari suku kata lain; dan vokal pada suku kata tertentu terdengar lebih tinggi pada vokal suku kata yang lain. Unsur-unsur yang demikian lazim disebut dengan suprasegmental. Tekanan, jangka, dan nada dapat merupakan fonem jika membedakan arti dalam suatu bahasa. Nada, pada semua bahasa memberikan informasi sintaksis.

Kalimat Anda pergi besok dapat diucapkan sebagai kalimat berita atau sebagai kalimat tanya bergantung pada naik turunnya nada dan intonasi yang kita pakai. Untuk memberi tanda-tanda fonem suprasegmental tersebut dapat digunakan tanda-tanda sbb:

Tanda / ; (,) berhenti sebentar (jeda pendek)

Tanda // = (.) berhenti agak lama (jeda panjang)

Tanda = berlanjut pada baris berikutnya

Tanda tekanan naik

Tanda tekanan turun

2. Pembelajaran Morfologi dalam Berbicara

Aspek morfologi dalam berbicara juga menjadi aspek yang dapat memperkaya siswa dalam memilih kata yang tepat yang mewakili gagasannya dalam berbicara secara efektif.

3. Pembelajaran Sintaksis/Kalimat dalam Berbicara

Tataran lain yang lebih tinggi yang diharapkan hadir dalam keterampilan berbicara adalah penyusunan kalimat. Kecermatan dalam menyusun kalimat merupakan syarat bagi siswa ketika berbicara agar gagasan atau ide yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh pendengar dengan baik. Pengetahuan tentang seluk beluk kalimat, baik jenis kalimat maupun keefektifan dalam menyusun kalimat diperlukan.

Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas yang menanyakan apakah A menjelaskan B, ataukah B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini kalau diterjemahkan ke dalam kalimat menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikta (yang diterangkan). Bentuk kalimat ini bukan hanya menyangkut persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi juga menentukan makna yang dibentukoleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya. Contoh kasus seoarang guru yang sedang menasihati siswa dapat disusun ke dalam bentuk kalimat pasif juga aktif. Kalimat guru menasehati siswa menempatkan guru sebagai subjek. Dengan menempatkan guru di awal kalimat, memberi klarifikasi atas kesalahan siswa. Sebaliknya kalimat siswa dinasehati guru, guru ditempatkan tersembunyi. Makna yang muncul dari susunan kalimat ini berbeda karena posisi sentral dalam kedua kalimat ini adalah guru. Struktur kalimat bisa dibuat aktif atau pasif, tetapi umumnya pokok yang dipandang pebting selalu ditempatkan di awal kalimat.

4. Pembelajaran Semantik dalam Berbicara

Sudah diketahui bersama bahwa bahasa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi dan alat berpikir, dengan bahasa dimungkinkan manusia untuk dapat berhubungan dengan sesamanya, baik secara lisan maupun tertulis.

Komunikasi akan berlangsung secara efektif apabila para pelaku komunikasi yang bersangkutan menggunakan bahasa secara efektif pula. Bahasa yang digunakan secara efektif pula. Bahasa yang digunakan secara efektif diwujudkan dalam pemakaian bahasa yang baik dan benar berdasarkan kaidah yang berlaku, baik pada tatanan fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik.

Dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, sering kita temukan penyimpangan pengguanaan kalimat akibat terjadinya penyimpangan makna. Dalam hal ini guru harus dapat memilih bahan ajar yang menarik minat bagi siswa dalam berbicara,yang dalam hal ini dapat juga menggunakan media sastra sebagai pembelajaran untuk memahami beragam makna bahasa.

5. Pembelajaran Kosakata dalam Berbicara

Agar proses berbicara lancar diperlukkan perbendaharaan kata yang banyak, sebab kosakata memberikan arahan kepada khalayak bagaimana realitas srharusnya dipahami. Sebagai contoh ketika dalam berbicara menggunakan kata “intervensi” membatasi pikiran kita dan persepsi khalayak adanya campur tangan pihak lain. Kata-kata bukan hanya merupakan pembatasan, tetapi juga penilaian. Ketika membahasakan suatu realitas, pemakai bahasa mempergunakan pengalamannya budaya, sosial, dan tujuan mereka ke dalam bahasa. Oleh karena itu, kosakata terntentu bukan hanya tidak netral dan tidak menggambarkan realitas, tetapi juga mengandung penilaian.

Kosakata berpengaruh terhadap bagaimana siswa memahami dan memaknai suatu peristiwa. Oleh karena itu, ketika membaca suatu kosakata tertentu siswa akan menghubungkan dengan pengalaman yang pernah dimilikinya.

3. Pembelajaran Kebahasaan dalam Membaca

Aspek kebahasaan yang distandarkan dalam keterampilan membaca antara lain: (a) Menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tepat sesuai dengan konteks yang diinginkan melalui kegiatan membaca memindai; (b) Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat; (c) Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat dan; (d) Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas.

Berbeda dengan dua keterampilan sebelumnya yang bersifat produktif keterampilan membaca termasuk ke dalam keterampilan yang bersifat reseptif. Dalam jenis keterampilan ini unsur fonologis kurang berperan kecuali pada proses membaca nyaring yang memergunakan alat artikulasi. Dalam hal ini, aspek fonologis menjadi penting sebab berkaitan dengan berbicara sebagai hasil dari proses membaca.

a. Pembelajaran Fonologi dalam Membaca

Aspek fonologi dalam pembelajaran menulis diwujudkan dengan penggunaan tanda baca dan simbol-simbol fonologis sebab membaca adalah mengkaji, meneliti, dan memahami tulisan. Oleh karena itu, dalam membaca diperlukan kercermatan yang tinggi agar tidak salah dalam melihat simbol-simbol grafis yang terdapat di dalamnya sebab bila terjadi kesalahan dapat mengakibatkan salahnya pemahaman terhadap makna kata. Tanda-tanda grafis yang harus dipahami tidak hanya terdiri atas huruf-huruf saja, melainkan juga tanda-tanda baca yang digunakan dalam tulisan. Sama halnya dengan ketika memahami kata salah dalam menggunakan tanda baca juga memungkinkan untuk menyebabkan kesalahan pemaknaan. Misalnya, dalam penulisan gelar di belakang nama orang seperti Sujarwo, S.H. apablia penulisannya diselingi dengan tanda titik (.) seperti contoh tersebut S.H, dalam tulisan tersebut bukanlah nama gelar sarjana hukum, tetapi kependekan dari nama belakang orang yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa penggunaan tanda baca penting dalam tulisan agar tidak terjadi kesalahan dalam proses membaca dan ketidaktaatan azas dalam penulisan.

Pembelajaran membaca bagi siswa dapat dimulai dengan pelatihan membaca nyaring yaitu dengan mendengarkan pembacaan antarsiswa. Dengan demikian, siswa dapat mengoreksi secara langsung kesalahan baca yang dilakukan temannya baik kesalahan intonasi, tekanan, jeda, maupun kesalahan pelafalan. Dalam sistem tulisan fonem-fonem segmental diwakili dengan tanda-tanda baca.

b. Pembelajaran Morfologi dalam Membaca

Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya morfologi berkenaan dengan pembentukan kata, arti imbuhan, dan jenis kata. Dalam pembelajaran jenis kata pada tingkat SMP diperkenalkan dengan kata sapaan, kata ganti orang.

c. Pembelajaran Sintaksis/Kalimat dalam Membaca

Sintaksis merupakan tataran gramatikal sesudah morfologi. Untuk Kalimat-kalimat yang dirangkai hingga membentuk wacana harus dapat dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, pengetahuan tentang kalimat perlu diberikan kepada siswa, melalui keterampilan berbahasa lainnya.

d. Pembelajaran Semantik dalam Membaca

Dalam kegiatan membaca siswa dapat diajak untuk melakukan membaca pemahaman. Dalam membaca pemahaman itu, siswa diajak memahami makna kata-kata sulit dengan menggunakan kamus sebagai media. Selanjutnya, siswa diajak menyusun kembali kata-kata yang telah ditemukan menjadi kalimat.

e. Pembelajaran Kosakata dalam Membaca

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dapat dimanfaatkan untuk menambah perbendaharaan kata siswa. Salah satu cara yang bisa dipakai oleh guru untuk pembelajaran ini adalah dengan teknik cloze test atau guru memberikan paragraf yang disajikan secara rumpang dan meminta siswa untuk mengisi dengan kata yang tepat. Cara ini juga dapat efektif untuk dijadikan sarana berlatih siswa dalam hal pemilihan kata. Faktor kebahasaaan yang utama dalam keterampilan berbahasa adalah kosa kata, dalam setiap kompetensi yang kebahasaan yang akan dicapai oleh siswa disyaratkan adanya penggunaan pilihan kata yang tepat.

4. Pembelajaran Kebahasaan dalam Menulis

Aspek kebahasaan dalam menulis yang disebutkan dalam standar komptensi yang harus dikuasai siswa antara lain: (a) Menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar; (b) Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa; (c) Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik dan benar; (d) Mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat langsung dan tak langsung; (e) Menulis pesan singkat sesuai dengan isi dengan menggunakan kalimat efektif dan bahasa yang santun; (f) Menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar; (g) Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku; (h) Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif; (i) Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama; (j) Menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer; (k) Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas; (l) Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif; (m) Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai; (n) Menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas; (o) Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana; dan (p) Menulis teks pidato/ceramah/ khotbah dengan sistematika dan bahasa yang efektif.

a. Pembelajaran Fonologi dalam Menulis

Dalam pembelajaran menulis seluruh unsur kebahasaan terlibat fonologi, yang diwakili dengan unsur suprasegmental yang dihadirkan dalam bentuk tanda baca dan ejaan. Tanda-tanda baca dan ejaan yang digunakan dalam menulis adalah tanda bacaan dan ejaan baku, yang harus digunakan dalam setiap bentuk tulisan baik formal maupun nonformal. Tanda-tanda baca yang harus dikuasi siswa SMP antara lain: (a) Penggunaan huruf yang meliputi, penggunaan huruf kapital, cetak miring, dan lambang bilangan; (b) Tanda baca yang meliputi, (a) tanda titik (.), tanda koma(,), tanda titik koma(;), tanda titik dua(:), tanda petik (“....”), tanda kurung ((...)), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).

b. Pembelajaran Morfologi dalam Menulis

Morfologi yang dihadirkan melalui pembentukan kata dalam pembelajaran menulis dapat direalisasikan melalui proses afiksasi, baik dengan penambahan awalan (prefiks), akhiran (sufiks), sisipan (infiks) maupun imbuhan gabung (konfiks). Proses pembentukan kata ini dapat dilihat dalam hasil kerja siswa yang berupa tulisan. Selain proses pembentukan kata, dalam morfologi dapat dikenalkan pula pada jenis-jenis kata. Sebagai contoh dalam proses pembelajaran menulis

c. Pembelajaran Sintaksis dalam Menulis

Sintaksis atau tata kalimat yang mewajibkan siswa untuk dapat menyusun kalimat secara efektif dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa seringkali mengalami kesulitan dalam membuat kalimat sehingga menimbulkan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan gagasan yang ingin disampaikan tidak dapat dipahami oleh pembaca. Sebagai contoh seorang guru meminta murid membuat kalimat dengan kata hasil. Siswa membuatnya menjadi Hasil daripada pembangunan harus kita nikmati, secara langsung guru pasti akan melihat pada kesalahan penggunaan kata daripada.

Sintaksis dalam pembelajaran menulis dapat dikemas dalam berbagai teknik pembelajaran yang menarik, misalnya dengan menulis berantai, yaitu guru memberikan satu kalimat pembuka dan siswa diminta untuk melanjutkan kalimat tersebut, selain itu untuk menulis cerita guru dapat meminta siswa membuat paragraf pembuka atau penutup. Dengan demikian siswa akan tertarik untuk menulis.

d. Pembelajaran Semantik dalam Menulis

Semantik yang mensyaratkan siswa untuk mengetahui makna kata, baik yang bermakna denotasi untuk penulisan yang bersifat resmi dan formal maupun kata yang bermakna konotasi untuk penulisan kreatif, seperti dalam penulisan karya sastra.

e. Pembelajaran Kosakata dalam Menulis

Pembelajaran kebahasaan dalam menulis dapat dilakukan dengan dengan teknik yang bervariasi, disesuaikan dengan kompetensi yang akan dicapai oleh siswa. Untuk menumbuhkan minat menulis siswa sebaiknya dipilih metode-metode yang menyenangkan bagi siswa, misalnya untuk mencapai kompetensi dasar menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar dapat dirancangkan pembelajaran menulis dengan menghadirkan teknik menulis berantai. Dalam teknik seperti ini siswa tidak dituntut untuk menyatukan gagasan, tetapi ditutut untuk dapat membuat kalimat secara efektif, baik dan benar sesuai dengan kaidah dalam ketatabahasaan dalam bahasa Indonesia. Dalam menggunakan teknik-teknik pembelajaran menulis disesuaikan dengan tingkat kesulitan terhadap kompetensi dasar yang akan dicapai.

BAB IV

RANGKUMAN

Pembelajaran kebahasaan dalam KTSP dintegrasikan ke dalam pembelajaran emapat keterampilan berbahasa yang terdiri atas mendengarkan, berbicara membaca dan menulis. Namun demikian, pengetahuan kebahasaan tidak dapat dilepaskan sebab bagaimana pun bahasa selalu mempunyai kaidah dan aturan ketatbahasaan yang mengatur agar bahasa tersebut sistematis.

Sama halnya dengan bahasa-bahasa lainnya bahasa Indonesia memiliki hirarki ketatabahasaan yang terdiri atas: fonologi, morfologi, sintasksis, semantik. Selain hirarki tersebut dalam ditambahkan juga aspek kosakata. Fonologi berkaitan dengan tata bunyi, untuk mengejawantahan fonologi dalam keterampilan membaca dan menulis dilambangkan dengan fonem-fonem suprasegmental dan tanda-tanda baca serta ejaan. Morfologi merupakan sercara lingusitis merupakan ilmu yang berkaitan dengan kata dan pembentukan kata, sintaksis berkaitan dengan pembentukan kalimat, sedangkan semantik berkaitan dengan pemaknaan baik makna kata maupun makna pembentuk kata yang biasa disebut dengan gramatikal, jenis-jenis makna, serta perubahan makna.

Dalam pelaksanaan pembelajarannya aspek-aspek kebahasaan diberikan secara inklusif dalam keempat keterampilan. Dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis harus melibatkan kebahasaan sebagai dalam aspek berbicara misalnya ditekankan pada aspek-aspek fonologi yang berkaitan dengan tekanan, intonasi, jeda, dan pelafalan. Demikian juga aspek kebahasaan yang seperti pembentukan kata, kalimat dan semantik ke dalam keempat aspek keterampilan berbahasa.

BAB V

PENILAIAN

Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas.

1. Sebutkan fungsi dan makna awalan di-

2. Berilah tanda baca dan betulkan ejaan dalam paragraf berikut.

pompa hidran hydraulicran ialah sejenis pompa yang dapat bekerja secara kontinu tanpa menggunakan bahan bakar atau energi tambahan dari luar pompa ini bekerja dengan memanfaatkan tenaga aliran air yang berasal dari sumber air dan mengalirkan sebagian air tersebut ke tempat yang lebih tinggi bagian utama sistem pompa ini ialah pipa pemasukan katub limbah katub pengantar katub udara ruang udara dan pipa pengeluaran pada dasarnya air dapat dipompakan karena adanya perubahan energi kinetis air jatuh yang menimbulkan tenaga yang cukup tinggi dalam ruang udara sehingga sanggup mengangkat dan mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi permukaannya desain katub limbah dan katub pemasukan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi bergantian

3. Betulkan kalimat berikut dari segi kehematan.

  1. Router berfungsi agar supaya data sampai di tempat tujuan sesuai dengan yang dikehendaki.
  2. Pada waktu yang bersamaan pengapikasian teknologi phone banking juga dilakukan. Phone banking melayani informasi mengenai produk yang ada di Bank Putra dan layanan transfer dana untuk segala jenis kartu kredit.
  3. Software network ini sangat penting dan mutlak karena tanpa software maka jaringan tersebut tidak akan berfungsi sehingga workstation dan server tidak dapat bekerja sebagaimana yang dikendaki.

4. Berilah kata hubungan (antarkalimat dan intrakalimat) yang tepat pada paragraf berikut!

a. Modem adalah interface yang sedikit berbeda dengan card adapter lainnya. (...), modem tidak hanya mengubah signal analog biasa (...) juga mengubah dan mengolah signal telepon. Modem dapat mengubah signal telepon yang masuk (...) mengolahnya.

b. Berbeda dengan media lainnya, media ini menggunakan teknologi cahaya. (...) media ini tidak mengganggu dan terganggu oleh keadaan sekelilingnya.

c. Setelah manajemen melakukan investasi untuk Wide Area Network (WAN) ATM diinstal di enam lokasi di antaranya Jakarta, Bandung, dan Surabaya. (...) bergabung dengan provider ATM bersama sistem jaringan berkembang (...) menjadi lebih luas. (...), aplikasi penarikan tunai melalui ATM menjadi lebih mudah.

5. Jelaskan relasi makna dan buatlah contoh tiap-tiap relasi maknanya.

Jawaban:

1. Awalan di- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif. Makna awalan di- sebagai berikut:

a. ‘dikenai laku’ atau’ dikenai tindakan’, seperti dihukum (dikenai tindakan hukum), dll.

b. ‘dikenai dengan’, seperti diparang (dipotong), dll.

c. ‘dibuat’ atau ‘dijadikan’, seperti digulai (dibuat/dijadikan gulai), dll.

d. ‘diberi’ atau ‘dilengkapi dengan’, seperti dipagari (diberi pagar), dll.

2. Pompa hidran hydraulicran ialah sejenis pompa yang dapat bekerja secara kontinu tanpa menggunakan bahan bakar atau energi tambahan dari luar. Pompa ini bekerja dengan memanfaatkan tenaga aliran air yang berasal dari sumber air dan mengalirkan sebagian air tersebut ke tempat yang lebih tinggi. Bagian utama sistem pompa ini ialah pipa pemasukan, katub limbah, katub pengantar, katub udara, ruang udara, dan pipa pengeluaran. Pada dasarnya air dapat dipompakan karena adanya perubahan energi kinetis, air jatuh yang menimbulkan tenaga yang cukup tinggi dalam ruang udara sehingga sanggup mengangkat dan mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi permukaannya. Desain katub limbah dan katub pemasukan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi bergantian.

3. Kalimat yang betul.

a. Router berfungsi agar data sampai di tempat tujuan sesuai dengan yang dikehendaki.

b. Pada waktu yang bersamaan pengapikasian teknologi phone banking juga dilakukan. Phone banking melayani informasi produk yang ada di Bank Putra dan layanan transfer dana untuk segala jenis kartu kredit.

c. Software network ini penting dan mutlak karena tanpa software jaringan tersebut tidak akan berfungsi sehingga workstation dan server tidak dapat bekerja sebagaimana yang dikendaki.

4. Kata hubung yang tepat

a. Modem adalah interface yang sedikit berbeda dengan card adapter lainnya (Namun demikian), modem tidak hanya mengubah signal analog biasa (tetapi) juga mengubah dan mengolah signal telepon. Modem dapat mengubah signal telepon yang masuk (kemudian) mengolahnya.

b. Berbeda dengan media lainnya, media ini menggunakan teknologi cahaya. (Namun demikian,) media ini tidak mengganggu dan terganggu oleh keadaan sekelilingnya.

c. Setelah manajemen melakukan investasi untuk Wide Area Network (WAN) ATM diinstal di enam lokasi di antaranya Jakarta, Bandung, dan Surabaya. (Sejak) bergabung dengan provider ATM bersama sistem jaringan berkembang (dan) menjadi lebih luas. (Selain itu), aplikasi penarikan tunai melalui ATM menjadi lebih mudah.

5. Relasi makna

a. Sinonimi

Sinonimi adalah relasi makna antarkata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirirp. Didalam suatu bahasa sangat jarang ditemukan dua kata yang bersininim secar mutlak.

Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim, seperti kata-kata yang berasal dari daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing. Sebagai contoh kukul (bahasa Jawa) bersinonim dengan jerawat (bahasa Indonesia)

b. Antonimi

Antonim atau oposisi adalah relasi antarkata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya.

Istilah antonimi digunakan untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal bertaraf seperti panas dengan dingin, antonimi ini disebut bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata seperti hangat dan suam-suam kuku. Perkataan seperti Saya tidak ingin mandi dengan air dingin tidak berarti Saya ingin mandi dengan air panas.

Oposisi makna pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dengan betina.

Relasi antarkata ada juga yang maknanya berkebalikan, yang disebut kosok bali, seperti kata suami dengan kata isteri.

c. Homonimi

Himonimi adalah relasi makna antarkata yang ditulis atau dilafalkan sama tetapi maknanya berbeda . kata-kata yang ditulis sama tetapi maknanya berbeda disebut homograf, sedangkan yang dilafalkan sama tetapi makna berbeda disebut homofon. Contoh homograf adalah kata tahu yang berarti makanan yang berhomofraf dengan kata tahu yang berarti paham dan buku yang berarti kitab berhomograf dengan buku yang berarti tempat pertemuan atau dua ruas, sedangkan kata masa yang berarti waktu berhomofon dengan massa yang berarti jumlah besar yang menjadi satu kesatuan.

Di dalam kamus kata-kata yang termasuk homofon muncul sebagai lema (entri) yang terpisah. Misalnya kata tahu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai dua lema.

1ta.hu v mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dsb);

2ta.hu n makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus dan dicetak

d. Polisemi

Polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Hubungan antarmakna ini disebut polisemi. Di dalam penyusunan kamus, seperti yang disebut di atas, kata-kata yang berhomonimi muncul sebagai lema (entri yang terpisah), sedangkan kata yang berpolisemi muncul sebagai satu lema namun dengan beberapa penjelasan. Misalnya, kata sumber dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia muncul sebagai satu lema, namun dengan beberapa penjelsan seperti berikut.

sum.ber n 1tempat keluar (air atau zat cair); sumur;

2asal (dl berbagai arti)

Dilihat dari relasi gramatikalnya, ada dua jenis relasi makna, relasi sintagmatik dan paradigmatik. Relasi makna sintagmatis adalah relasi antarmakna kata dalam satu frasa ataui kalimat (hubungan horizontal). Sebagai contoh hubungan makna antara saya membaca dan buku dalam kalimat saya membaca buku. Di sisi lain, relasi paradigmatis adalah relasi antarmakna kata yang menduduki gatra sintaktis yang sama dan dapat saling menggantikan dalam satu konteks tertentu (hubungan vertikal). Hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Saya membeli bunga .........untuk hadiah ualng tahun ibu saya.

mawar

anggrek

aster

tulip

relasi makna antara kata mawar, anggrek, aster, dan tulip merupakan relasi paradigmatis.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1995. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka cipta.

--------.1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djago Tarigan dan Lilis Siti Sulistyaningsih. 1996. Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Eriyanto. 1995. Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta; LKIS

Kushartanti, Untung Yuwono, Multamia RMT Lauder (penyunting). 2005. Pesona Bahasa, Lanhkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Muslich, Masnur. 2007. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudaryat, Yayat. 2009. Makna dalam Wacana: Prinsip-prinsip Semantik dan Pragmatik. Bandung: Yrama Widya.

Tim Gamma Science. 2007. Kampus Pintar Komplit Bahasa Indonesia untuk SMP. Bandung: Epsilon Grup

Wahyudin, Diding. 2001. Modul Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia: Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Sekolah Lanjutan Pertama.

Zaenal Arifin dan Junaiyah H.M. 2007. Morfologi, Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Grasindo

--------, 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo.




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Fakta Rahasia, Published at 17.24 and have 0 comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar